Assalamu'alaikum Wr.Wb Selamat Datang di Blog Dunia Pendidikan Berbagi Wawasan Keilmuan, Keislaman Oleh : Sahrialsyah Sinar, M.Pd.I
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Oktober 2011

Hobby Berbuat Baik

Hidup ini adalah kebiasaan. kumpulan dari berbagai kebiasaan itu membentuk hidup dan kehidupan ini. sehingga, kebiasaan merupakan hal yang perlu di renungkan, agar setiap insan mampu membangun kebiasaan, sehingga para ahli pendidkan selalu mengatakan bahwa hidup adalah proses pembiasaan.
       Tradisi membangun kebiasaan yang baik merupakan bagian dari perjuangan yang tak habis, hingga akhir hayat. segala upaya yang di kerahkan membangun kebiasaan merupakan jihat modern, pada saat kita di hadapkan dengan perang budaya saat ini.

       Hobby dan kebiasaan yang mendominasi diri kita adalah kebulatan tekad untuk membangun diri. dalam komitmen diri yang selalu di sebut dengan tarbiyah zatiyah, menjadikan kebiasaan baik menjadi tradisi dan pada gilirannya menjadi hobby. hobby untuk berbuat baik.
       Jika diri insan mampu membangun hobby berbuat baik, maka kebiasaan berbuat baik menjadi tradisi. sementara kebiasaan berbuat "ungood" terkalahkan dengan hobby berbuat baik.Selamat membiasakan diri berbuat baik.akhirnya menjadi hobby.

Jumat, 29 April 2011

UNSUR-UNSUR YANG MENJADI KEWENANGAN DAN TANGGUNG JAWAB SEKOLAH

  1. Pengelolaan Proses Belajar Mengajar
  2. Perencanaan dan evaluasi
  3. Pengelolaan Kurikulum
  4. Pengelolaan Ketenagaan
  5. Pengelolaan Fasilitas (Peralatan dan Perlengkapan)
  6. Pengelolaan Keuangan
  7. Pelayanan siswa
  8. Hubungan sekolah Masyarakat
  9. Pengelolaan Iklim sekolah

Minggu, 23 Januari 2011

Prestasi bukan datang Tiba-tiba

Berbicara soal prestasi sering sekali  di dengar atau ditentukan baik itu di segala bidang pemerintahan,pendidikan,dan semua yang menyangkut.lembaga dan segala hal pasti di minta atau di lihat dan diperhatikan yang namanya prestasi sebagai tolak ukur maju mundurnya sesorang, kelompok,baik besar maupun kecil, yang pasti prestasi sangat menentukan.jadi prestasi itu bukan datang secara tiba-tiba melainkan dengan cara ataupun proses yang memakan waktu lama.dan atas dasar pertimbangan,ujian ,cobaan baik itu berupa profesi dan pekerjaan juga ada proses di dalamnya.jadi prestasi bisa dijadikan sebagai acuan atau modal yang sangat berharga untuk segabagai gambaran kemajuan kedepan.disini penulis mencoba memaparkan  bagaimana untuk mencapai prestasi dengan baik :
  1. lakukanlah hal yang anda tekuni dengan sebaik-baiknya
  2. jangan menyia-nyiakan waktu yang ada di berikan
  3. tetaplah konsisten dan fokus pada bidang anda
  4. perbanyak belajar dan selalu berbuat yang terbaik
  5. koreksi tahapan proses yang telah kita lakukan
  6. bandingkan dengan yang lain
  7. banyaklah berdoa dan berusaha
  8. ikhlaskan apa yang telah kita laksanakan
  9. selalu membuat inovasi dan perbaikan-perbaikan
  10. syukuri apa yang telah kita usahakan.



Rabu, 19 Januari 2011

KODE ETIK GURU INDONESIA

Guru Indonesia menyadari, bahwa pendidikan adalah bidang pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bangsa, dan Negara, serta kemanusiaan pada umumnya. Guru Indonesia yang berjiwa Pancasila dan setia pada Undang-Undang Dasar 1945, turut bertanggung jawab atas terwujudnya cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 agustus 1945. Oleh sebab itu, Guru Indonesia terpanggil untuk menunaikan karyanya dengan memedomani dasar-dasar sebagai berikut:
1. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila.
2. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran professional.
3. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan.

Minggu, 16 Januari 2011

GURU YANG PROFESIONAL


Pada era otonomi pendidikan, pemerintah daerah memiliki kewenangan yang amat besar bagi penentuan kualitas guru yang diperlukan di daerahnya masing-masing. .Oleh karena itu di masa yang akan datang, daerah benar-benar harus memiliki pola rekrutmen dan pola pembinaan karier guru agar tercipta profesionalisme pendidikan di daerah. Dengan pola rekrutmen dan pembinaan karier guru yang baik, akan tercipta guru yang profesional dan efektif. Untuk kepentingan sekolah, memiliki guru yang profesional dan efektif merupakan kunci keberhasilan bagi proses belajar-mengajar di sekolah itu. Bahkan, John Goodlad, seorang tokoh pendidikan Amerika Serikat, pernah melakukan penelitian yang hasilnya menunjukkan bahwa peran guru amat signifikan bagi setiap keberhasilan proses pembelajaran. Penelitian itu kemudian dipublikasikan dengan titel: Behind the Classroom Doors, yang di dalamnya dijelaskan bahwa ketika para guru telah memasuki ruang kelas dan menutup pintu-pintu kelas itu,

Jumat, 14 Januari 2011

GURU YANG BAIK AKAN MENGHASILKAN MURID YANG BAIK




Tidak mudah menjadi guru yang baik, dikagumi dan dihormati oleh anak didik, masyarakat sekitar dan rekan se profesi.
  • Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh seorang guru untuk mendapat pengakuan sebagai guru yang baik dan berhasil.Berusahalah tampil di muka kelas dengan prima. Kuasai betul materi pelajaran yang akan diberikan kepada siswa. Jika perlu, ketika berbicara di muka kelasa tidak membuka catatan atau buku pegangan sama sekali. Berbicaralah yang jelas dan lancar sehingga terkesan di hati siswa bahwa kita benar-benar tahu segala permasalahan dari materi yang disampaikan.

Kamis, 16 Desember 2010

HUKUMAN YANG MENDIDIK DI SEKOLAH

Ada beberapa hukuman ‘tradisional’ yang dulu banyak dipraktekkan, seperti berdiri di depan kelas sambil mengangkat satu kaki atau memegang telinga, berlari keliling lapangan sekolah, menulis “saya tidak nakal lagi” 1000 kali, push up, dan sebagainya. Untunglah model-model hukuman yang menyiksa fisik tapi tak jelas manfaatnya itu sudah jarang dipraktekkan. Tapi bukan berarti hukuman model sekarang sudah baik semua.
    Beberapa bulan lalu saya menerima surat dari kepala sekolah tempat anak saya belajar (SMP). Isinya menyatakan bahwa siswa yang terlambat tiba di sekolah lebih dari lima menit akan dipulangkan (tidak boleh ikut pelajaran). Ini juga model hukuman yang tidak mendidik. Tujuan untuk menegakkan disiplin tentu saja dapat dimengerti, dan saya kira tidak ada yang tidak setuju. Tapi melarang anak belajar di sekolah hanya karena terlambat lebih dari lima menit rasanya sangat berlebihan.
    Aturan/hukuman yang senada dengan itu juga banyak diterapkan, bahkan di perguruan tinggi. Mahasiswa yang kehadirannya kurang dari 20% dilarang ikut ujian.  Seperti saya ceritakan di postingan sebelumnya, ada juga dosen yang melarang mahasiwa masuk kalau terlambat lebih dari 15 menit (meskipun sang dosen sendiri juga tidak selalu tepat waktu).
Coba bandingkan dengan apa yang dilakukan oleh salah satu dosen saya waktu kuliah. Beliau juga ingin supaya mahasiswanya rajin kuliah. Jadi, pada tataran tujuan, sama lah.. Yang berbeda adalah hukuman atau sanksinya. Beliau membuat aturan, bahwa mahasiswa yang kehadirannya kurang dari 80% harus membuat karya tulis (paper). Itu menurut saya salah satu bentuk hukuman yang mendidik. Asal tahu saja, saya dulu merupakan salah satu mahasiswa yang sangat menikmati aturan beliau secara ’sempurna’, karena saya memang tidak rajin kuliah dan saya juga senang menulis.
Apa yang dilakukan oleh dosen saya itu saya kira bisa diterapkan oleh siapa saja yang berprofesi sebagai pengajar. Daripada menyuruh pulang siswa, atau menulis kalimat ratusan kali yang tak jelas manfaatnya, mengapa tidak mempertimbangkan berbagai bentuk hukuman yang mendidik seperti membaca buku di perpustakaan yang meminta siswa meringkasnya, menyuruh siswa menulis puisi, minta siswa membuat kliping korang, mencari informasi dari internet, dsb. Jika kesalahan dilakukan secara kolektif oleh banyak siswa, membersihkan kelas juga termasuk hukuman mendidik, atau minimal tidak buruk.
    Hukuman yang baik juga tidak boleh ‘memperlakukan’ siswa yang membuat kesalahan. Ini prinsip yang mudah diucapkan, tetapi tidak mudah dipraktekkan, terutama karena sensitivitas anak berbeda-beda. Ada yang cepat merasa malu, ada yang tidak. Tapi guru yang baik sensitif terhadap perbedaan kepribadian siswanya, sehingga dapat menakar hukuman yang diberikan agar tidak mempermalukannya. Karena hukuman yang memperlakukan biasanya justru membangkitkan naluri ‘dendam’ dan berpotensi membuat siswa membuat kesalahan lain yang lebih besar.
    Tapi, apa pun kesalahan yang dibuat oleh siswa, opsi pertama yang diambil oleh guru/dosen sebaiknya adalah “tanpa hukuman”. Kalau tanpa hukuman siswa yang melakukan kesalahan bisa memperbaiki perilakunya, mengapa mesti dihukum? Dalam banyak kasus, siswa dapat menjadi lebih baik jika diajak bicara dari hati ke hati. Kalau di sekolah, itu mestinya menjadi tugas guru Bimbingan dan Konseling (BK).

   Yang pasti, jika memang harus ada hukuman, apa pun bentuk hukuman yang diberikan, hukuman itu tidak boleh menghilangkan hak anak/siswa untuk belajar..

HUKUMAN YANG MENDIDIK

Ketika anak berbuat nakal, hampir 90 persen orang tua mengaku pernah memberikan hukuman fisik pada si kecil. Padahal sudah banyak psikolog yang melarang orang tua menghukum anak secara fisik, karena dapat berlanjut ke kekerasan fisik.

Yang perlu para orang tua tahu, kekerasan fisik bisa menyebabkan kembangan emosi si kecil terganggu. Bahkan, tak jarang perilaku si kecil juga bisa makin 'liar'.   

Sebuah penelitian dari University of New Orleans, AS, menyimpulkan tiga hukuman untuk anak berikut ini adalah yang paling efektif dibandingkan dengan memukul, yaitu:
  1.  Mendiamkan atau memberikan mereka waktu sendiri untuk merenungi kesalahannya. Setelah itu, baru   ajak dia mengobrol menanyakan apa alasan si kecil berulah.
  2.  Memberikan anak tugas rumah tambahan.
  3. Tidak memperbolehkan si kecil melakukan aktivitas favoritnya untuk sementara. Misalnya, tak diizinkan bermain internet dan menonton teve selama seminggu.

Kekerasan memang bukan solusi terbaik. Sebab, meski orang tua hanya sesekali memukul anak, tetap saja dapat membuat anak cenderung mudah stres dan tidak percaya diri.
"Kuncinya adalah konsistensi. Memberikan hukuman fisik, bagi Anda mungkin cukup keras sehingga si kecil bisa menghentikan kenakalannya. Tapi, cara itu justru bisa menimbulkan masalah yang lebih besar. Lebih baik menggunakan tipe untuk mendisiplinkan anak dan fokus pada konsistensi," kata Dr. Paul Frick, salah satu pengajar dariUniversity of New Orleans, AS.

Pada penelitian ini, Dr. Frick dan tim peneliti mengamati dampak dari kekerasan fisik pada 98 anak. Dampaknya ternyata lebih banyak negatifnya. Pelajaran yang didapat anak justru, jika sedang marah pada seseorang, kita diperbolehkan untuk memukul.

"Kuncinya adalah memiliki beragam bentuk hukuman yang tergantung pada usia anak. Pada anak yang masih di bawah 5 tahun, lebih baik diberi hukuman dengan mendiamkannya. Sedangkan bagi anak yang berusia di atas lima tahun, akan lebih baik jika diberi hukuman tambahan tugas rumah dan tidak diizinkan melakukan aktivitas favorit si kecil untuk sementara. Tiga cara ini cukup efektif dan tanpa menyakiti anak-anak," ujar Frick yang hasil penelitian ini dimuat dalam 'Journal of Applied Developmental Psychology'.
• VIVAnews

Rabu, 15 Desember 2010

PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS IT

“Dalam era perkembangan sains dan teknologi, umat Islam harus memanfaatkan teknologi agar dapat menghadapi dan melakukan proses transformasi,” kata Maftuh di Semarang, Kamis [12/02] .
Pola pendidikan Islam zaman dahulu, lanjutnya, sangat anti dengan semua yang berbau Barat. “Jangankan persoalan teknologi, memakai celana panjang saja saat itu tidak diperbolehkan karena identik dengan penjajah (bangsa barat),” katanya.
Ia menjelaskan, pola pendidikan tersebut benar jika dilihat dalam konteks zaman dahulu. “Saya sangat memahami, karena bertujuan untuk membangkitkan semangat patriotisme dalam usaha mengusir penjajah dari tanah air,” jelas Maftuh.
Akan tetapi, kata Maftuh, pola pendidikan tersebut tidak sesuai lagi diterapkan saat ini. “Kita harus melakukan perubahan untuk menghadapi arus transformasi sosial budaya dengan cara yang kreatif,” katanya.
Perubahan tersebut, pertama, melakukan lompatan dari pola hidup lama. “Kita harus meninggalkan sikap malas, tidak disiplin, kurang percaya diri, dan sebagainya menuju sikap bekerja keras, disiplin, percaya diri, tangguh cerminan perilaku muslim yang ‘akhlak al karimah,” kata Maftuh.
Langkah kedua, lanjutnya, melakukan transformasi pendidikan dengan mengedepankan “amar ma’ruf nahi mungkar”, karena pendidikan Islam berasaskan nilai-nilai luhur Islam yang harus tetap dijaga.
Langkah terakhir, kata Maftuh, memanfaatkan kemajuan sains dan teknologi, dengan “Information and Communication Technology” (ICT).
“Hanya saja, kita harus menyadari bahwa produk teknologi yang saat ini didomisasi oleh negara-negara Barat, tidak pernah bebas nilai karena kehadiran suatu produk teknologi seringkali ikut mengubah cara berpikir, pandangan hidup, norma, budaya, dan sistem nilai masyarakat,” katanya.
Ia mengatakan, pemanfaatan ICT dalam pendidikan Islam juga harus memperhatikan kemungkinan terjadinya hal tersebut. “ICT hanyalah piranti dan alat, bukan tujuan, tapi pelaku pendidikan yang menjadi penentu utama keberhasilan,” kata Maftuh. ( ant )

ORIENTASI BARU DALAM KEBIJAKAN DIKNAS


  1. Berbasis kompetensi dalam arti bertujuan menbentuk kompetensi
  2. SPN sebagai kreteria minimal yang harus dicapai oleh berbagai kompenen sistem pendidikan
  3. Kurikulum mengacu pada SPN dan menyesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan &kepentingan perserta dididk dan lingkungannya.
  4. Perhatian yang proporsioanal terhadap pembentukan kompetensi intelaktual, moralitas dan keterampilan



Jumat, 10 Desember 2010

NAMIRA GREEN SCHOOL

Green School", Sekolah Peduli Lingkungan
SECARA arti kata green school adalah sekolah hijau. Namun dalam makna luas, diartikan sebagai sekolah yang memiliki komitmen dan secara sistematis mengembangkan program-program untuk mengintemali-sasikan nilai-nilai lingkungan ke dalam seluruh aktivitas sekolah. Karenanya, tampilan fisik sekolah ditata secara ekologis sehingga menjadi wahana pembelajaran bagi seluruh warga sekolah untuk bersikap arif dan berperilaku ramah lingkungan (Sugeng Paryadi, 2O08).
Melihat kondisi lingkungan sekitar saat ini, konsep sekolah hijau sangat penting untuk diimplementasikan secara lebih luas. Berbagai bencana alam yang terjadi seperti banjir, tanah longsor, dan sebagainya, sebagian besar diakibatkan oleh perbuatan manusia yang merusak ekosistem lingkungan. Selain berserah diri pada-Nya, tentu saja perlu dilakukan upaya penyadaran agar manusia makin ramah pada lingkungan.
Di sinilah, konsep sekolah hijau dalam menumbuhkan sikap peduli lingkungan melalui proses pembelajaran dan pembiasaan menjadi penting dan strategis. Di sekolah, proses pembelajaran mengarah pada upaya pembentukan perilaku siswa yang peduli lingkungan melalui model pembelajaran yang aplikatif dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Sementara itu, lingkungan sekolah dijadikan wahana pembiasaan perilaku peduli lingkungan sehari-hari. Dengan demikian, kedua aspek tadi, menuju pada satu tujuan yaitu internalisasi atau pembiasaan perilaku peduli lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Mengutip pendapat Sugeng Paryadi, penyusunan program sekolah hijau ini dilakukan secara holistik dengan mengaitkan seluruh program yang ada di sekolah serta mempertimbangkan faktor pendukung dan penghambat.
Potensi internal sekolah seperti ketersediaan lahan, sumber daya air, energi,
bentang alam, tradisi masyarakat sekitar, dan ekosistemnya merupakan objek pengembangan dalam konsep sekolah hijau. Sementara dalam pandangan LSM Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati), program sekolah hijau ha-rus mengembangkan (a) kurikulum berbasis lingkungan; (b) pendidikan berbasis komunitas; (c) peningkatan kualitas lingkungan sekolah dan sekitarnya; (d) sistem pendukung yang ramah lingkungan; dan (e) manajemen sekolah berwawasan lingkungan.
Implementasi sekolah hijau dilakukan dalam tiga langkah strategis yaitu pertama, bidang kurikuler, pembelajaran lingkungan hidup dilakukan secara terintegrasi dengan mata pelajaran yang ada. Guru harus pandai mengemas pembelajaran dengan pemahaman dan pengalaman belajar yang aplikatif. Kedua, bidang ekstrakurikuler yaitu mengarah pada pembentukan kepedulian siswa terhadap pelestarian lingkung-
an melalui kegiatan penyuluhan lingkungan dan lomba karya lingkungan.
Ketiga, bidang pengelolaan lingkungan sekolah yaitu melalui (a) pemanfaatan dan penataan lahan sekolah menjadi laboratorium alam seperti menjadi kebun dan tanaman obat-obatan, ajakan hemat energi dan air, daur ulang sampah melalui proses reduce, reuse, dan recycle, serta (b) pengelolaan lingkungan sosial dalam bentuk pembiasaan perilaku-perila-ku nyata yang positif di antaranya kedisiplinan, kerja sama, kepedulian, kejujuran, dan menghargai kearifan lokaL
Lingkungan sekolah adalah lingkungan kehidupan sehari-hari siswa. Jika lingkungan sekolah dapat ditata dan dikelola dengan baik, maka akan menjadi wahana efektif pembentukan perilaku peduli lingkungan.  
"Tujuan Green School ini, untuk mengubah lingkungan sekolah menjadi
hijau, bersih dan sehat.”
Pengelolaan seutuhnya dilakukan para siswa dengan media pot maupun
langsung pada lahan tanah, dengan pupuk yang diswakelola melalui proses
daur ulang sampah.
Melalui program "Green School" ini, menurut saya, para siswa akan
mendapatkan ilmu berlipat ganda, selain pendidikan umum secara formal, juga
akan mendapatkan pengetahuan extra kurikuler khususnya dibidang pertanian,
yang tentunya akan sangat bermanfaat untuk masa depannya.

ISU PENDIDIKAN AGAMA DI PENDIDIKAN UMUM


Isu-Isu Pendidikan Agama Di Sekolah Umum
Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa pada awal perkjembangan sains moderen (sekitar abad 16/ 17 M) pernah terjadi perpecahan antra kaum agamawi dan ilmuan, yang ditandai dengan sikap kekerasan kaum agamawi eropa (penganut geosentis) kepada penganut heliosentris, seperti Bruno, Kepler, Galileo dan lain-lain.
Dalam keyakinan beragama, (sebagai hasil pendidikan agama) diharapkan mampu memperkuat upaya penguasaan dan pengembangan iptek dan sebaliknya, pengembangan iptek memperkuat keyakinan beragama. Beberapa kelemahan dari pendidikan agama islam disekolah, baik dalam pemahaman materi pendidikan agama islam maupun dalam pelaksanaannya, yaitu:
6. Dalam bidang teologi, ada kecendrungan mengarah pada paham patalistik
7. Bidang akhlak yang berorientasi pada urusan sopan santun dan belum dipahami sebagian keseluruhan peribadi manusia beragama
8. Dalam ibadah diajarkan sebagai kegiatan rutin agama dan kurang ditekankan sebagai proses pembentukan keperibadian
9. Dalam bidang hukum cendrung dipelajari sebagai tata turan yang tidak akan berubah sepanjang masa dan kurang memahami dinamikan dan jiwa hukum islam.
10. Agama islam cendrung diajarkan dogma dan kurang mengembangkan raionalitas secara kecintaan ada kemajuan pengetahuan.

Kamis, 02 Desember 2010

PENDIDIKAN SENTRAL

Kepala sekolah memiliki peranan yang sangat kuat dalam mengkoordinasikan, menggerakkan, dan menyerasikan semua sumber daya pendidikan yang tersedia di sekolah. Kepala sekolah dituntut mempunyai kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang memadai agar mampu mengambil inisiatif dan prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah (Mulyasa, 2005). Manajemen sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Hal ini disebabkan karena manajemen sekolah secara langsung akan mempengaruhi dan menentukan efektif tidaknya kurikulum, berbagai peralatan belajar, waktu mengajar dan proses pembelajaran. Sekolah efektif dalam perspektif manajemen, manajemen sekolah merupakan proses pemanfaatan seluruh sumber daya sekolah yang dilakukan melalui tindakan yang rasional dan sistematik (mencakup perencanaan, pengorganisasian, pengerahan tindakan dan pengendalian) untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien. Darling-Hammond,L (1992) menyatakan dimensi sekolah efektif meliputi : 1) layanan belajar bagi siswa, 2) pengelolaan dan layanan siswa, 3) sarana dan pra sarana sekolah, 4) program dan pembiayaan, 5) partisipasi masyarakat, dan 6) budaya sekolah. Sekolah yang efektif berada dalam lapangan manajemen sekolah yang ciri/karakteristiknya menurut Edmonds (dalam Syafaruddin, 2002) meliputi (a) Kepala sekolah dan guru-guru memiliki komitmen dan perhatian yang tinggi terhadap perbaikan mutu pengajaran, (b) Guru-guru memiliki harapan yang tinggi untuk mendukung pencapaian prestasi siswa, (c) Iklim sekolah yang tidak kaku, sejuk tanpa tekanan dan kondusif dalam seluruh proses pengajaran, (d) Sekolah mempunyai pemahaman yang luas tentang fokus pengajaran dan mengusahakan keefektifan sekolah dengan mendayagunakan seluruh sumber daya sekolah untuk mencapai tujuan secara maksimal, (e) Sekolah efektif dapat menjamin kemajuan siswa yang dimonitor secara periodik. Sejalan dengan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri kepala sekolah yang memiliki kemampuan dalam menerapkan fungsi-fungsi manajemen meliputi sebagai berikut: Dalam perencanaan meliputi (1) Kepala sekolah dapat menetapkan program-program sekolah, (2) Kepala sekolah dapat merumuskan kebijakan-kebijakan sekolah, (3) Kepala sekolah dapat menyusun program kerja sekolah, dan (4) Kepala sekolah dapat merumuskan langkah-langkah pelaksanaan program. Dalam pengorganisasian meliputi (1) Kepala sekolah dapat menempatkan guru sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki dalam KBM, (2) Kepala sekolah dapat mengatur penggunaan sarana dan prasarana yang ada sesuai dengan kebutuhan siswa, guru dan personel lain sehingga terjalin kerjasama yang baik, (3) Kepala sekolah dapat memberikan solusi terhadap berbagai masalah yang dihadapi oleh guru dan personel sekolah lainnya, (4) Kepala sekolah dapat mengatur kerjasama dengan pihak atau instansi lain untuk menyukseskan program-program sekolah.
Dalam penggerakan meliputi (1) Kepala sekolah dapat memotivasi guru sehingga guru merasa mampu dan yakin untuk melaksanakan program- program sekolah, (2) Kepala sekolah dapat memimpin dan mengarahkan guru-guru dengan baik, (3) Kepala sekolah dapat mendorong guru-guru untuk mengembangkan profesionalisme sesuai dengan bidangnya, (4) Kepala sekolah dapat mendorong guru bekerja dengan tujuan untuk pencapaian prestasi. Dalam pengendalian meliputi (1) Kepala sekolah dapat mengevaluasi pelaksanaan program-program sekolah seperti yang telah ditetapkan dalam tahap perencanaan, (2) Kepala sekolah dapat mengevaluasi kinerja guru dan personel sekolah lainnya, (3) Kepala sekolah dapat memberikan penguatan terhadap keberhasilan yang telah dicapai oleh guru, (4) Kepala sekolah dapat memperbaiki kesalahan/kelemahan yang telah dibuat oleh guru dan personel lainnya.
Kemajuan suatu sekolah tidak terlepas dari kompetensi manajerial yang dimainkan dan dimiliki oleh kepala sekolah. Semegah apapun dan secanggih apapun sarana dan prasarana yang dimiliki oleh suatu sekolah kalau tidak dimanage dan ditangani oleh kepala sekolah beserta dengan aparat birokrasi sekolah yang bersangkutan, maka itu akan sia-sia.
Oleh sebab itu, kemajuan dan perkembangan suatu sekolah sangat ditentukan atensi dan kompetensi yang dimiliki oleh kepala sekolah, sehingga kiprah kepala sekolah di dalam menjalankan visi,misi dan strategi sekolah dapat terwujud. Urgensinya dari persoalannya bahwa: Pertama, kepala sekolah adalah pelaksana suatu tugas yang sarat dengan harapan dan pembaharuan, oleh sebab itu kepala sekolah adalah inovator. Kemasan cita-cita mulia pendidikan kita secara tidak langsung diserahkan kepada kepala sekolah. Optimisme dan kepercayaan orang tua menyekolahkan putera-puterinya pada sekolah tertentu tidak lain berupa fenomena menggantungkan cita-citanya pada semua komponen persekolahan seperti guru, karyawan dan kepala sekolah. Karena orang tua masih banyak memiliki pandangan bahwa suatu sekolah yang sudah menjadi primadona dan fanatismenya disebabkan oleh popularitas suatu sekolah yang
didukung oleh sarana dan prasarana memadai, komponen birokrasi dan administrasi sekolah yang terbuka, harmonisasi dan interaksi antar semua komponen persekolah saling mendukung dan terbentuk suasana kondunsif, di manapun lokasi sekolah yang bersangkutan akan tetap dikejar. Apalagi masih melekat dari para orang tua yang sudah tertanam didirinya, bahwa bila anak pertamanya dididik di sekolah tertentu, maka untuk anak-anak berikutnya tetap menginginkan sekolah yang bersangkutan. Hal ini tentunya atas pertimbangan yang sudah disebutkan di atas. Siswa dapat belajar dan membelajarkan dirinya hanya karena fasilitasi kepala sekolah, oleh sebab itu seorang kepala sekolah mestilah seorang fasilitator. Seonggokan aturan dan kurikulum yang selanjutnya direalisasiakan oleh para pendidik sudah pasti atas koordinasi dan otokrasi dari kepala sekolah. Singkatnya, kepala sekolah merupakan tokoh sentral pendidikan.
Kedua, sekolah sebagai suatu komunitas pendidikan membutuhkan seorang figur pemimpin yang dapat mendayagunakan semua potensi yang ada dalam sekolah untuk suatu visi dan misi sekolah. Pada level ini, kepala sekolah sering dianggap satu atau identik, bahkan secara begitu saja dikatakan bahwa wajah sekolah ada pada kepala sekolahnya. Di sini tampak peranan kepala sekolah bukan hanya seorang akumulator yang mengumpulkan aneka ragam potensi penata usaha, guru, karyawan dan peserta didik; melainkan konseptor managerial yang bertanggungjawab pada kontribusi masing-masingnya demi efektivitas dan efiseiensi kelangsungan pendidikan. Akhirnya, kepala sekolah berperanan sebagai manager yang mengelola sekolah. Sayang sekali kalau kedua peran itu yakni sebagai tokoh sentral dan manajer dalam sekolah diharubirukan oleh ketakmampuan mengatasi aneka krisis yang ada dalam sekolah. Ketiga, mestilah memahami akan fungsi apa yang disebut dengan Manajemen Mutu Terpadu (MMT) atau dikenal dengan istilah Total Quality Management (TQM) Salah satu pola manajemen yang berisi seperangkat prosedur yang digunakan oleh setiap orang/institusi untuk memperbaiki kinerja pembelajaran secara terus menerus. Karena manfaat dari MMT ini antara lain adalah untuk meningkatkan kinerja proses pembelajaran melalui peningkatan produktivitas, efektivitas dan efisiensi. Konsep ini harus dipahami oleh semua unsur birokrasi sekolah, mulai dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, guru BP, petugas laboratorium, pustaka, karyawan, penjaga sekolah, siswa, orang tua dan komite sekolah. Masing-masing bersinergi dan saling menunjukan kinerja, dan masing-masing saling bertanggungjawab dengan tugas dan fungsi yang melekat pada dirinya. Akan terasa pincang jalannya suatu organisasi sekolah, bilama masing-masing komponen tidak saling mendukung, dan lebih celakanya masing-masing komponen melempar tanggungjawab, dan seolah-olah tugas dan fungsi yang melekat pada dirinya bisa dikerjakan oleh orang lain. Oleh sebab itulah, kompetensi seorang kepala sekolah di dalam menjalankan roda organisasi sekolah mesti ada. Kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah di samping yang disebutkan di atas, diantaranya adalah konseptor, negosiator, administrator, motivator. Disamping itu seorang kepala sekolah juga memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional, dan ini terkait erat dengan program sertifikasi bagi kepala sekolah. Suatu hal yang harus melekat erat pada seorang kepala sekolah adalah memiliki visioner, punya pandangan dan wawasan, intelektual, dan bertanggungjawab.

Senin, 01 November 2010

KEWAJIBAN ORANG TUA TERHADAP ANAK

Ada beberapa kewajiban yang harus diperhatikan dan dilakukan setelah kita mempunyai Anak yaitu:
1.Bersyukur kepada Allah karena kita diberi anugerah dan amanah berupa anak.
2.Beraqiqah, yakni menyembelih dua ekor kambing pabila anak laki-laki, dan satu ekor kambing apabila anak kita perempuan
3.Memberi nama yang baik dan mulia
4.Menyusuinya selama dua tahun.
5.Mengkhitannya sebelum Baligh.
6.Mendidiknya sengan baik dan benar
7.Menikahkan ketika sudah cukup umur atau ada jodoh.

Jumat, 29 Oktober 2010

TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

Pendidikan dalam Islam haruslah berusaha membina atau mengembalikan manusia kepada fitrahnya yaitu kepada Rubbubiyah Allah sehingga mewujudkan manusia yang :
1.berjiwa tauhid
2.takwa kepada Allah
3.Rajin beribadah dan beramal shaleh
4.Ulil albab
5.Berakhlakul karimah

a.Berjiwa Tauhid
Tujuan pendidikan Islam yang pertama ini harus ditanamkan pada peserta didik,sesuai dengan firman Allah:(Dalam surat Al Luqman Ayat 13)
yang artinya "Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya diwaktu ia memberikan pelajaran kepadanya,Hai Anakku janganlah kamu mempersekutukan ALLAH,sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah benar-benar kezhaliman yang besar(QS.Luqman :13)
Manusia yang mengenyam pedidikan seperti ini sangat yakin bahwa ilmu yang ia miliki adalah bersumber dari Allah, dengan demikian ia tetap rendah hati dan semakin yakin akan bebesaran Allah.
b.Takwa kepada Allah SWT
mewujudkan manusia yang bertaqwa kepada Allah merupakan tujuan pendidikan Islam, sebab walaupun ia genius dan gelar akademiknya sangat banyak,tapi kalau tidak bertaqwa kepada Allah maka ia dianggap belum/tidak berhasil.Hanya dengan ketaqwaan kepada Allah saja akan terpenuhi keseimbangan dan kesempurnaan dalam hidup ini.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang paling Taqwa sesungguhnya Allah Maha mengetahui dan maha mengenal"(QS.Al-Hujurat :13)
c.Rajin beribadah dan beamal saleh
Tujuan pendidikan islam juga adalah agar pesdik lebih rajin dalam beribadah dan beramal saleh, apapun aktivitas dalam hidup ini haruslah didasarkan untuk beribadah kepada Allah,karena itulah tujuan Allah menciptakan manusia di muka bumi ini.
Firman Allah :"Dan aku tidak menciptakan Jin dan manusia melainkan supaya beribadah kepadaKU(QS.Adz-Dzariyaat:56)
Termasuk dalam pengertian beribadah tersebut adalah beramal shalih(berbuat baik)kepada sesama manusia dan semua mahkluk yang ada dialam ini,karena dengan demikian akan terwujud keharmonisan dan kesempurnaan hidup.
d.Ulil Albab
Tujuan pendidikan Islam berikutnya adalah mewujudkan Ulil albab yaitu orang-orang yang dapat memikirkan dan meneliti keagungan Allah melalui ayat-ayat qauliyah yang terdapat di dalam kitab suci Al-Qur'an dan Ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda kekuasaan Allah)yang terdapat dialam semesta,mereka ilmuan dan intelektual,tetapi mereka juga rajin berzikir dan beribadah kepada Allah SWT.(terdapat Pada QS.Ali Imran :190-191)
e.Berakhlakul Karimah
Pendidika dalam Islam tidak hanya bertujuan untuk mencetak manusia yang memiliki kecerdasan saja, tapi juga berusaha mencetak manusia yang berahklak mulia.ia tidak akan menepuk dada atau bersifat arogan (congkak)dengan ilmu yang dimilikinya,sebab ia sangat menyadari bahwa ia tidak pantas bagi dirinya untuk sombong bila dibandingkan ilmu yang dimiliki Allah,malah ilmu yang ia miliki pun serta yang membuat ia sampai pandai adalah berasal dari Allah.apabila Allah berkehendak Dia bisa mengambil ilmu dan kecerdasan yang dimiliki mahkluknya(termasuk Manusia)dalam waktu seketika.Allah mengajarkan manusia untuk bersifat rendah hati dan berakhlak mulia.Allah berfirman :(QS.Luqman :180)

Kamis, 28 Oktober 2010

METODE HUKUMAN

Metode ini sebenarnya berhubungan dengan pujian dan penghargaan.Imbalan atau tanggapan terhadap orang lain itu sendiri dari dua, yaitu penghargaan(reward/targhib)dan hukuman (punishment/tarhib).Hukuman dapat diambil sebagai metode pendidikan apabila terpaksa atau tak ada alternatif lain yang bisa diambil.
Agama islam memberi arahan dalam memberi hukuman (terhadap anak didik/pesdik) hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
  1. Jangan menghukum ketika marah.kerena pemberian hukuman ketika marah akan lebih bersifat emosional yang dipengaruhi nafsu syaithaniyah.
  2. Jangan sampai menyakiti perasaan dan harga diri anak atau orang kita hukum.
  3. Jangan sampai merendahkan derejat dan martabat orang yang bersangkutan,misalnya dengan menghina dan mencaci maki di depan orang lain.atau pesdik.
  4. Jangan menyakiti secara fisik,misalnya menampar mukanya atau menarik kerah bajunya,dan sebagainya.
  5. Bertujuan mengubah prilakunya yang kurang atau tidak baik,kita menghukum karena anak berprilaku buruk/tidak baik.
Karena itu yang patut kita benci adalah prilakunya, bukan orangnya,apabila anak/orang yang kita hukum sudah memperbaiki prilakunya, maka tidak ada alasan kita untuk tetap membencinya, semoga kita bisa memilih metode pendidikan yang mana yang tepat digunakan, dan itu tergantung pada situasi dan kondisinya.

PENDIDIKAN

Apakah pendidikan itu? Pendidikan adalah segala usaha yang dilakukan untuk mendidik manusia sehingga tumbuh dan berkembang serta memiliki potensi atau kemampuan sebagaimana mestinya.
Ada tiga unsur utama yang harus terdapat dalam proses pendidikan,yaitu :
a.Pendidik (orangtua/guru/ustadz/dosen/ulama/pembimbing).
b.Peserta didik (anak/santri/mahasisw/mustami).
c.Ilmu atau pesan yang disampaikan (nasihat/materi/pelajaran/kuliyah/ceramah/bimbingan)
Selain itu ada tiga unsur sebagai pendukung atau penunjang dalam proses pendidikan agar mencapai tujuan yang diharapkan,yaitu :
a.Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai:yaitu berupa ruangan,bangunan atau tempat tertentu misalnya ruangan kelas.bangunan sekolah, perpustakaan,masjid, laboratorium,museum, koperasi dan sebagainya.
b.Metode yang menarik, peran metode dalam pendidikan sangatlah penting.sehubungan itu dianjurkan agar menggunakan metode yang menarik perhatian peserta didik,misalnya dalam pemberian nasihat atau ceramah diselingi oleh kisah-kisah para Nabi dan Rasul,sahabat,atau orang-orang salih,juga hendaknya jangan hanya menggunakan satu metode tapi gunakan metode-metode yang lainnya lebih baik lagi apabila dengan disertai menggunakan alat peraga.
c.Pengelola/Manajemen yang profesional,untuk mencapai hasil pendidikan sesuai dengan yang diharapkan maka perlukan pengelola/manajemen yang profesional.ketertinggalan sebagian umat islam dalam bidang pendidikan pada masa sekarang ini disebabkan kerena kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitasa tinggi,kurangnya kemampuan dalam hal finansial/keuangan dan kurangnya pengelola/manajemen yang profesional.

Senin, 22 Februari 2010

EKSISTENSI PENDIDIK

Pendidik merupakan orang kedua yang harus dihormati dan dimuliakan setelah orangtua.Mereka menggantikan peran orang tua dalam mendidika anak-anak atau peserta didik ketika berada di lembaga pendidikan adalah tempat apabila ada pepatah Mengatakan:
"Orangtua adalah guruku di rumah dan Guru adalah orangtuaku di sekolah"
Dengan demikian, seharusnya kita menghargai dan memuliakan para pendidik serta ulama sperti halnya memuliakan para orangtau kita Rasullullah bersabda:
"Bukanlah termasuk umatku, orang yang tidak menghormati orang tua(orang yang lebih tua),tidak menyayangi anak-anak (orang yang lebih muda),dan tidak memuliakan para ulama (orang yang berilmu)"(HR.Ahmad,Thabrani &Hakim)

Mengapa kita harus memuliakan para pendidik dan ulama Kerena melalui perantara merekalah kita menjadi pintar, memiliki berbagai ilmu pengatahuan, serta berhasil dalam kehidupan ini.Adakalanya peserta didik"terlupa" atau tidak menghargai jasa para pendidik dan ulama, bukan hanya mereka ketika lulus atau berhasil, tapi ketika juga mereka masih dalam proses pendidikan.Apabila hal ini terjadi, mak yakinlah bahwa peserta didik tersebut meskipun pintar tapi tidak akan membawa berkah(manfaat), jangankan bagi orang lain bagi dirinya sendiri pun tidak,Rasullulah tidak akan mengakui sebagi umatnya(seperi sabda beliu dalam hadis diatas) Maka mulialah yang memuliakan para pendidik dan ulamadan terhinalah yang tidak memuliakan (menghina) para pendidik dan ulama,maka renungkanlah...?

Selasa, 02 Februari 2010

Puisi Karya ( Dorothy Law Notle )

  1. Jika Anak dibesarkan dengan celaan ia akan belajar memaki
  2. Jika Anak dibesarkan dengan permusuhan Ia akan belajar berkelahi
  3. Jika Anak dibesarkan dengan penghinaan ia akan belajar menyesali diri
  4. Jika Anak dibesarkan dengan cemoohan ia akan belajar rendah diri
  5. Jika anak dibesarkan dengan toleransi ia akan belajar menahan diri
  6. Jika Anak dibesarkan dengan dorongan ia akan belajar percaya diri
  7. Jika Anak dibesarkan dengan pijian ia akan belajar menghargai
  8. Jika Anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan ia akan belajar keadilan
  9. Jika Anak dibesarkan dengan rasa aman ia akan belajar menaryh kepercayaan
  10. Jika Anak dibesarkan dengan dukungan ia akan belajar menyenangi dirinya
  11. Jika dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan ia akan belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Senin, 18 Januari 2010

LEMBAGA PENYELENGGARA PENDIDIKAN

Badan atau penyelenggara pendidikan, baik pemerintah maupun swasta(biasanya berbentuk yayasan)berfungsi sebagai motor penggerak utama sekaligus penanggung jawab penuh terselenggaranya pendidikan di sekolah/madrasah yang di pimpinnya,
setiap penyelenggara pendidikan haruslah mengupayakan agar setiap kegiatan atau aktivitasnya dilaksanakan dengan profesionaldan penuh tanggung jawab(tidak asal-asalan)
Allah SWT Berfirman :
yang artinya :"Dan katakanlah,bekerjalah kamu sekalian, maka Allah dan Rasulnya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu"(QS.At Taubah:105)
Ali Bin Abi Tahalib ra, Juga pernah memperingatkan":Kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kejahatan/kemungkaran yang terorganisir.
Hal lain yang perlu di perhatikan oleh lembaga penyelenggara pendidikan adalah perlu adanya kesinambungan antara tuntutan pemenuhan kewajiban terhadap para personil pendidikan(karyawan, pendidik,dan tata usaha)dengan pemenuhan hak-hak mereka,misalnya menyangkut kesejahteraannya.Hal yang masih menjadi perhatian di dunia pendidikan adalah rendahnya gaji pendidik dari profesi-profesi lainya.merupakan suatu Ironi apabila profesi pendidik yang diakui oleh semua pihak sebagai profesi yang mulia tapi masih belum dimuliakan,profesi terhormat tapi masih belum dihormati, profesi yang membawa kesejahteraan tapi masih belum di sejahterakan.
Ada hadis qudsi yang perlu direnungkan oleh para penyelenggara dan pemimpin(lembaga swasta maupun pemerintah di bidang pendidikan) yaitu :
"Ada tiga golaongan manusia yang Aku musuhi di hari kiamat nant. pertama orang yang berjanji atas NamaKu(bersumpah dengan NamaKU)tetapi kemuadian ia memungkiri janjinya itu,Kedua orang yang menjual manusia dan memekan hasil jualanya,Ketiga orang yang mempekerjakan buruh(pegawai/karyawan) yang senantiasa minta tambah gaji,tetapi tidak di penuhi.(HR.Bukhari dari Abu Hurairah).
Memang benar dalam Islam ada anjuaran untuk melaksanakan terlebih dahulu kewajiban,setelah itu Hak akan menyusul,tapi ada juga hadis yang menganjurkan agar para majikan membayar upah/gaji karyawan sebelum keringat mereka kering serta memeprhatikan Hak-hak mereka,Merupakan terbaik diantara itu adalah adanya saling pengertian dan kesinambungan serta pemenuhan hak dan kewajiban dari kedua belah pihak.